Contents
Common Misconception tentang tanggung jawab QA
Di sebuah ekosistem, Kualitas produk bukan tanggung jawab QA, melainkan bersama, antara developer dan QA Engineer / SDET. Tugas QA bukan untuk melakukan cek dan dokumentasi debugging sederhana seperti API, itu sudah menjadi tugas tim backend. Tim QA fokus untuk dokumentasi dan cek fitur fungsional dengan uji coba selayaknya customer menggunakan aplikasi. Kemudian memberikan status ready atau need revised.
Tahapan testing mulai dibahas saat fase planning, dimana QA dan tim developer akan berdiskusi mengenai fitur dan saling meluruskan pemahaman. Makannya tahapan ini bisa saja lebih lama dalam iterasi sprint, karena di sini perlu well understanding antara tim yang berbeda jobdesk.
SDET melakukan Software testing beriringan dengan pengerjaan fitur oleh Developer, tidak baru dikerjakan saat “testing phase” saja. Tim developer akan mengirim progress dan QA engineer akan menjalankan testing dan menyampaikan hasilnya ke tim Developer.
Kenapa software testing dipersiapkan sedini mungkin? karena semakin telat maka biaya akan semakin tinggi untuk perbaikan. Sehingga phase paling murah jika ingin melakukan perbaikan bug secara urut development < testing < production. Intinya menemukan bug lebih awal akan lebih baik.
Ya kalau dilogika, semakin software berada pada phase ready maka akan semakin kompleks software tersebut. Tidak diterapkannya QA sedini mungkin maka akan semakin rentan kesalahan luar biasa yang muncul, dan jika kesalahan ini terlanjur sampai ke pengguna, bukan tidak mungkin masalah ini akan berimpact ke kepercayaan pengguna.
Jenjang karir QA Engineer dan Skill yang dibutuhkan untuk menjadi SDET Junior
QA tidak memerlukan skill coding selevel dan sekompleks dengan developer. Setidaknya butuh dua kemampuan bagi QA, yaitu menganalisa dan teknikal skill. Untuk skill analisa alias non teknikal, QA harus bekerja selayaknya dia adalah pengguna dari aplikasi. QA harus tahu apa yang akan dilakukan customer dari berbagai segmentasi. Ia juga harus mampu mengimbangi Product Owner karena tim QA biasanya adalah yang menyampaikan end to end application pada PO.
Perlukah QA Engineer / SDET belajar koding?
Dulu testing tidak memerlukan kemampuan koding, namun sekarang Job QA memerlukan skill koding. SDET nanti akan membuat script automation testing untuk mengerjakan task uji dan membuat report yang diautomasi.
Untuk kemampuan koding yang dibutuhkan biasanya hanya perlu pemahaman OOP dan data struktur dasar (tidak sampai algoritma). Selain itu QA Engineer juga mempunyai skill softskill yang lebih tinggi dari developer, karena QA Engineer perlu presentasi laporan dan customer understanding.
Dalam interview QA kadang juga muncul pertanyaan tentang database sederhana, seperti pengambilan queri data menggunakan SQL. Korelasinya dalam dunia kerja, terkadang SDET perlu membandingkan kueri ketika mengakses database dengan hasil output yang berjalan pada fitur yang ditest.
Oh iya, QA Senior wajib menguasai program automation testing. Ada banyak macamnya, yang paling dikenal ada Selenium untuk UI Testing dan Baru-baru ini ada Katalon Studio.
Namun, ada juga QA Engineer yang fokus untuk research and development, biasanya fokus mereka adalah membuat framework dan menyempurnakan framework QA application. Tim ini memang perlu sekali skill koding yang setara dengan tim develeoper. Dan biasaya anggota QA yang masuk di bidang r&d dulunya adalah developer.
Bahasa pemrograman apa yang dipakai SDET/Quality Assurance Engineer?
Biasanya mengikuti developer, jadi kalau aplikasi yang dikembangkan memakai Java, maka tim QA Engineer menggunakan bahasa Java.
Tahapan Jenjang karir SDET/QA Engineer dan Gaji QA Engineer
Kamu bisa pilih jenjang teknikal atau non teknikal:
- Kalau kamu pilih teknikal nanti kamu akan lanjut ke senior SDET, Principal SDET, kemudian menjadi Architect SDET.
- Untuk Non teknikal, kamu akan banyak interaksi dengan orang maka ada opsi menjadi analyst atau SDET Manager atau engineering managerial lain.
Secara QA ini bisa dibilang all rounder jadi engineer QA lebih mudah banting setir ke role yang berbeda. Kamu bisa pilih scrum master, product owner, bahkan menjadi developer. Iya, QA merupakan IT yang lebih ke generalist dibanding specialist. Kamu akan sering terlibat untuk berinteraksi dengan orang bisnis karena kamu harus mampu menguasai flow aplikasi. Intinya peluang QA untuk dapat bekerja di berbagai bidang baik teknis maupun non teknis cukup baik.
Untuk gaji SDET atau QA Engineer kamu bisa tenang, gajinya berada sama pada rentang software developer. Walaupun untuk tingkat koding lebih sulit developer, tetapi QA juga unggul di beberapa aspek. Sehingga Engineer SDET tetap sejajar dengan developer.
QA mempunyai kacamata general dibanding specialist, QA mempunyai Jobdesk dengan customer as mind dalam proses quality checking dan paham setiap end to end application.
Untuk things QA do dan work life balance nya akan saya jelaskan di lain waktu. Jika kamu tertarik, kamu bisa memahami divisi IT lainnya. Jangan lupa kunjungi dan follow Nako Info Teknologi
Join our list
Subscribe to our mailing list and get interesting stuff and updates to your email inbox.



0 Comments